Style Switcher
Theme Skins

Layout Styles

Studi Monitoring Efek Samping Obat Antituberkulosis

Admin Kamis, 04 September 2014 - 13:23:15 WIB. | 328

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang diderita hampir sepertiga populasi manusia di dunia. Insidens keterjangkitan tuberkulosis merupakan permasalahan kesehatan dunia yang cukup serius. Hasil survai rumah tangga (SKRT) 1995 menunjukkan bahwa TB (Tuberkulosis) adalah penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi di Indonesia. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus per 100.000 penduduk/tahun dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100.000 penduduk/tahun. Pada Riskesdas 2007 kasus Tuberkulosis Paru ditemukan merata di seluruh provinsi di Indonesia dan pada Riskesdas 2010 Periode Prevalence Tuberkulosis Paru Nasional adalah 725 per 100.000 penduduk.

Morbiditas dan mortalitas akibat tuberkulosis merupakan permasalahan yang sangat serius terutama akibat permasalahan timbulnya efek samping akibat penggunaan obat antituberkulosis (OAT). Efek samping yang serius adalah hepatotoksik. Hal ini menimbulkan dilema dalam pengobatan tuberkulosis dan eradikasi kuman tuberkulosis, karena mempengaruhi keberhasilan terapi. Putusnya terapi akibat timbul efek samping, menimbulkan resistensi kuman sehingga memperberat beban penyakit dan beban biaya pada pasien.

Artikel Terkait