Style Switcher
Theme Skins

Layout Styles
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Mengawal Upaya Kesehatan Masyarakat Berbasis Bukti


Dampak Radiasi Pada Pekerja Medis Di Rumah Sakit (Penilaian Risiko Keselamatan Kerja Radiasi Di Rumah Sakit)

Admin Web Pusat3 Kamis, 04 September 2014 - 13:40:37 WIB. | 1719

Latar belakang

Penilaian risiko perlu dilakukan pada rumah sakit - rumah sakit yang memiliki fasilitas radiasi pengion mengingat hal tersebut akan berpotensi menghasilkan pajanan radiasi yang cukup besar bila tidak dikelola dengan baik. Kecelakaan radiasi yang dilaporkan oleh United State Energy Atomic Commision dari tahun 1960-1968 disebakan oeh kesalahan operator (68%), kesalahan prosedur (8%), kerusakan perlengkapan (15%) dan lain-lain (9%). Bila dilihat secara rinci kesalahan operator yaitu tidak melakukan survey radiasi (46%), tidak mengikuti prosedur (36%), tidak menggunakan peralatan proteksi (6%), kesalahan manusiawi (6%), dan kesalahan menghitung paparan radiasi (6%). Penelitian ini bertujuan mengkaji besarnya risiko pajanan radiasi pada pekerja medis di rumah sakit,

Metode penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada 9 rumah sakit di 6 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Jogjakarta, Jawa Timur serta Bali. Jumlah sampel minimal yang dibutuhkan sebanyak 97 responden. Waktu penelitian selama 8 bulan pada tahun 2011. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, observasi dan pengukuran pajanan radiasi di tempat kerja (pada waktu sedang mengoperasikan peralatan yang dugunakan). Kuesioner yang digunakan meliputi pertanyaan – pertanyaan yang mencakup karakteristik rumah sakit, kuesioner individu ( data umum responden, hasil pemeriksaan kesehatan berkala, alat pelindung diri, pemeriksaan radiodiagnostik dan radioterapi ), kuesioner untuk pengelola RS, selanjutnya dilakukan analisis secra deskriptif. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 115 orang dari 9 rumah sakit.

Hasil penelitian

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah laki-laki (51,3 %) dan kelompok umur terbanyak 40-44 tahun (27 %) dengan status menikah (98,2 %). Pendidikan terbanyak adalah lulusan D-3 (44,3 %) dengan jenis pekerjaan adalah radiografer (59,1 %). Lama bekerja pada unit terakhir terbanyak pada kelompok dengan lama kerja 11-15 tahun sebesar 26,1 %. Hasil pemeriksaan hemoglobin darah pada perempuan rata-rata 12,42 g/dL sedangkan pada laki-laki 14,93 g/dL Hasil pemerksaan darah rutin lainnya juga masih dalam batas normal. Pemakaian alat pelindung diri (APD) terutama apron yang tak memakai cukup banyak sebesar 43,5%, karena mereka merasa tempat kerja aman 31,3 %, tak nyaman 9,6 % dan rusak 2,6%.. Hasil penghitungan estimasi besarnya pajanan radiasi di 9 RS antara 0,000008 – 1,07 mSv per bulan, kecuali satu orang mencapai 5,13 mSv per bulan karena melakukan tugas yang bukan bidang keahliannya. ( Nilai Batas Dosis tidak melebihi 50 mSv per tahun, atau 4 mSv per bulan). Pemakaian film badge sebagai alat monitor perorangan sebesar 88,7 % dan sebagian besar tidak pernah mendapat dosis maksimum, hanya seorang yang mendapat dosis maksimum karena melakukan pekerjaan yang bukan bidang keahliannya.

Kesimpulan dan saran

Kesimpulan dari penelitian ini peraturan dan kebijakan proteksi radiasi untuk melindungi para pekerja radiasi di semua rumah sakit ( 9 RS) sudah diterapkan, kecuali untuk SOP pengoperasian peralatan radiasi 88,89%, penanganan limbah radiasi 88,89% dan rekaman keadaan darurat 55,5%. Pajanan radiasi yang diterima para pekerja radiasi per bulan di hampir semua rumah sakit (88,89%) masih di bawah Nilai Batas Dosis (NBD) yang ditentukan yaitu 50 mSv per tahun ( 4 mSv per bulan). Besarnya pajanan radiasi pada waktu alat sedang digunakan yang terbesar adalah pada waktu melakukan kateterisasi jantung, dan posisi dokter merupakan posisi dengan pajanan terbesar, kemudian perawat dan radiographer yang terendah. Pajanan radiasi rata-rata pada waktu dilakukan katerisasi jantung 11,02 µSv/jam sedangkan di bagian radiodiagnostik lainnya ( CT scan, fluoroskopi, dan C-arm ) pajanan radiasi rata-rata 1,80 µSv/jam, di bagian kedokteran nuklir 5,33 µSv/jam, dan terendah di bagian radioterapi 1,05 µSv/jam. Hasil pemeriksaan kesehatan yang didapat dari pemeriksaan kesehatan berkala masih dalam batas normal, hanya saja pelaksanaan pemantauan kesehatan untuk tenaga medis belum sesuai dengan Peraturan Kepala BAPETEN No.6 tahun 2010.

Saran pada penelitian ini agar penerapan peraturan dan kebijakan proteksi radiasi termasuk pemakaian APD (safety culture) harus terus menerus disosialisasikan dengan menerapkan secara konsisten faktor keselamatan pasien, pekerja radiasi dan lingkungan. Lebih mengaktifkan peran organisasi proteksi radiasi serta peningkatan pengawasan internal oleh kepala instalasi terhadap pelaksanaan proteksi radiasi. Pemantauan kesehatan untuk pekerja radiasi secara berkala harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan kepala Bapeten No. 6 tahun 2010 dan pada pemeriksaan darah lengkap ditambahkan pemeriksaan gambaran darah tepi.