Style Switcher
Theme Skins

Layout Styles
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Better Health


PENELITIAN AKSES PENGOBATAN HIV/AIDS DAN INFEKSI OPORTUNISTIK PADA ANAK DI 10 KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA: PROGRESS REPORT

Mujiati Selasa, 16 Juni 2015 - 11:10:31 WIB. | 1281

AKSES PENGOBATAN HIV/AIDS DAN INFEKSI OPORTUNISTIK PADA ANAK DI 10 KABUPATEN/KOTA DI INDONESIA: PROGRESS REPORT

oleh: Rini Sasanti H dan Mujiati

 

Human Immunodeficiency virus(HIV) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan  mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi. Di Indonesia, tiap 25 menit terdapat satu orang baru terinfeksi HIV dan satu dari setiap lima orang yang terinfeksi HIV berusia dibawah 25 tahun. Kemenkes RI menyatakan bila tidak ada percepatan program penanggulangan HIV, maka lebih dari setengah juta orang di Indonesia akan positif HIV pada tahun 2014. Prevalensi HIV pada anak cenderung naik seiring dengan naiknya prevalensi HIV/AIDS pada wanita. Berdasarkan laporan Ditjen P2PL Kemenkes RI per September 2013, jumlah infeksi HIV tahun 2010-2013 pada usia

Anak dengan HIV merupakan kelompok rentan yang perlu dilindungi, mengingat orang tua mereka sering kali sudah meninggal karena HIV/AIDS sehingga menjadi beban keluarga atau kerabat. Undang-undang Perlindungan Anak menyatakan bahwa setiap anak barhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat  kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Pengobatan HIV/AIDS merupakan pengobatan seumur hidup sehingga keberlangsungan pengobatan sangat berpengaruh terhadap hasil pengobatan, namun hasil studi yang dilakukan oleh UNICEF dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menunjukkan adanya kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS untuk mengakses pelayanan pendidikan dan kesehatan karena adanya diskriminasi, kesulitan keuangan keluarga, kesehatan anak yang buruk dan kebutuhan untuk merawat orang tua yang juga terinfeksi HIV/AIDS.Selain HIV/AIDS-nya sendiri, penderita HIV/AIDS juga seringkalimenderita infeksi penyerta atau infeksi oportunistik yang disebabkan oleh rusaknya sistem imum karena virus HIV. Laporan triwulan Ditjen P2PL Kemenkes RI sampai dengan 30 Juni 2010 menunjukkan infeksi oportunistik yang terbanyak adalah TBC sebanyak 10.648 kasus (48,9%), diare kronis sebanyak 6392 kasus (29,3%), kandidiasis oro-faringeal sebanyak 6.412 kasus (29,4%), dermatitis generalisata sebanyak 1.623 kasus (7,4%), dan limfadenopati generalisata persisten sebanyak 770 kasus (3,5%).

Akses pengobatan merupakan jangkauan menyeluruh dari seluruh aspek pelayanan pengobatan yang meliputi accessibility, availability, affordability dan acceptability terhadap pengobatan. Berdasarkan data Ditjen P2PL Triwulan IV tahun 2013, provinsi dengan jumlah penderita terbanyak diantaranya adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Papua, Bali, dan Sumatera Utara. Dari uraian di atas, Pusat teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI melalui dana DIPA tahun 2015 melakukan penelitian untuk mengetahui akses pengobatan HIV/AIDS dan infeksi oportunistik pada anak di 10 kabupaten/kota di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Kemenkes untuk perbaikan program pengobatan HIV/AIDS dan infeksi oportunistik pada anak.

Desain penelitian menggunakan pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods approaches). Lokasi penelitian yaitu di DKI Jakarta (Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat), Jawa Timur (Kota Surabaya dan Kabupaten Malang), Bali (Kota Denpasar dan Kabupaten Buleleng), Papua (Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura), dan Sumatera Utara (Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang). Kelima provinsi tersebut termasuk 10 provinsi terbesar dalam jumlah ODHA. Penelitian dilakukan selama 10 bulan, mulai bulan Maret sampai Desember 2015. Sampel dalam penelitian ini yaitu: 1) Sebanyak 267 orangtua/wali anak berusia <18 tahun yang terinfeksi HIV/AIDS yang diambil secara proportional random sampling; 2) 5 orang pemegang program HIV dan 5 orang pengelola obat di Dinas Kesehatan Provinsi; 3) 10 orang pemegang program HIV dan 10 orang pengelola obat di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota; 4) 10 Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota; 5) Masing-masing 10 orang Kepala VCT, Dokter, Kepala IFRS, Kepala Laboratorium, Pemegang Program HIV, Perawat, Asisten Apoteker, Analis Laboratorium dan 20 Manajer Kasus di RS Rujukan HIV/AIDS; serta 6) Masing-masing 10 Direktur LSM dan Ketua KPAD Kabupaten/Kota. Instrumen penelitian berupa kuesioner, pedoman wawancara mendalam dan form isian.

Setelah melakukan perijinan dan ujicoba instrumen yang dilanjutkan dengan penyempurnaan  instrumen, maka kegiatan selanjutnya adalah pengumpulan data. Saat ini, tim peneliti yang terdiri dari 14 orang peneliti sedang turun langsung ke 10 kabupaten/kota di 5 provinsi untuk melakukan pengumpulan data primer dan sekunder. Tim akan berada di lapangan selama 9-10 hari di masing-masing provinsi.