Style Switcher
Theme Skins

Layout Styles
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

Better Health


PENELITIAN ANALISIS BIAYA PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU KATEGORI I PADA PASIEN DEWASA DI RS PEMERINTAH

Mujiati Selasa, 16 Juni 2015 - 11:32:56 WIB. | 3000

ANALISIS BIAYA PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU KATEGORI I PADA PASIEN DEWASA DI RS PEMERINTAH

Oleh: Mujiati

Pada tahun 2004 penderita baru Tuberkulosis (TB) berjumlah 250.000 yang menyerang pada usia 15-55 tahun di Indonesia. Pemerintah melakukan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) sebagai upaya menanggulangi TB. Diagnosis TB paru pada orang dewasa dilakukan dengan pemeriksaan sputum atau dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu) BTA hasilnya positif. Kombinasi obat yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan TB oleh Pemerintah Indonesia adalah kategori 1 : 2HRZE/4H3R3, kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3, kategori 3:2 HRZ/4H3R3, disamping ketiga kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE).

Pengobatan TB Paru merupakan program pemerintah yang cukup kompleks, karena waktu pengobatan yang cukup panjang, resiko penularan yang tinggi dan tingkat kepatuhan pasien yang harus dijaga agar tidak terjadi masalah resistensi. Bila hal ini terjadi maka akan lebih banyak sumber daya kesehatan yang diperlukan untuk mengatasinya. Hingga saat ini belum banyak ditemukan di Indonesia tentang hasil penelitian yang menghitung / menganalisis antara biaya dengan hasil pengobatan OAT pasien TBC. Karena hal itu dibutuhkan analisis biaya dan hasil atau Cost-Outcome Analysis (COA) untuk menghitung biaya pengobatan yang dilakukan dengan hasil terapi yang diperoleh. Diharapkan dengan analisis COA pada pasien TB Kategori I, dapat memberikan masukan bagi pemerintah tentang biaya pengobatan pasien TB.

Pusat Teknologi Intervensi Kesehatan Masyarakat Badan Litbangkes Kemenkes RI pada tahun 2014 telah melakukan penelitian deskriptif analitis terkait dengan COA pengobatan TB Paru. Penelitian tersebut dilakukan di 5 RSUD di Jakarta. Sampel penelitian ini adalah pasien TB dewasa baru (kategori 1) yang berobat ke RSUD di Jakarta. Setelah pasien dinyatakan positif menderita TB, pasien selanjutnaya mendapat Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sesuai dengan resep yang diberikan. Selanjutnya pasien diamati selama 6 bulan.

Biaya yang dicatat meliputi biaya langsung dan biaya tidak langsung. Biaya langsung diperoleh dengan menjumlahkan komponen biaya langsung dan biaya tidak langsung diperoleh dengan menjumlahkan komponen biaya tidak langsung. Biaya tersebut kemudian dijumlahkan selama periode pengobatan. Selanjutnya dilakukan analisis antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil pengobatan. Hasil penelitian akan menggambarkan biaya rata-rata yang dikeluarkan dengan hasil pengobatan yang diperoleh setiap bulannya.

Sebanyak 80,6% pasien penderita TB menggunakan BPJS sebagai sumber biaya pengobatan. Jumlah kunjungan pasien TB selama 6 bulan berkisar antara 7 hingga 16 kali dengan rata-rata kunjungan sebanyak 9,9 (10) kali. Total biaya langsung sebesar Rp.1.228.867,00 dengan asumsi utilisasi RSUD sebanyak 10 kali selama 6 bulan pengobatan TB. Sedangkan total biaya tidak langsung sebesar Rp.614.670,00 dengan asumsi utilisasi RSUD sebanyak 10 kali selama 6 bulan pengobatan TB. Total biaya pengobatan TB selama 6 bulan dihitung dengan menjumlahkan total biaya langsung dan total biaya tidak langsung. Besarnya biaya pengobatan TB selama 6 bulan adalah Rp.1.843.537. Jumlah pasien yang patuh berobat selama 6 bulan sebanyak 31 pasien atau 68,9%. Sebagian pasien hanya berobat selama 1 hingga 5 bulan.