Style Switcher
Theme Skins

Layout Styles

Masalah Kesehatan dan gizi remaja

Admin Jumat, 11 Maret 2016 - 08:03:44 WIB. | 819

KEADAAN KESEHATAN DAN GIZI REMAJA
Remaja adalah aset bangsa yang akan melanjutkan pembangunan di masa mendatang. Sebagai penerus bangsa, remaja perlu memiliki kesehatan yang prima agar mampu berkreasi dan berprestasi secara optimal. Oleh karena itu remaja perlu menjadi salah satu prioritas dalam peningkatan program kesehatan masyarakat.

Demi mempertahankan penampilan yang menarik dan tubuh langsing, remaja putri cenderung mengurangi asupan makanan . Gangguan perilaku makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia, terutama pada perempuan berkorelasi dengan citra bentuk tubuh (body image) yang negatif. Informasi penting tentang cara membangun citra bentuk tubuh yang positif kepada remaja merupakan salah satu upaya promosi kesehatan dan gizi serta pencegahan obesitas.

Keadaan Kesehatan remaja

Kebiasaan makan yang kurang sehat merupakan salah satu masalah kesehatan remaja. Kurang konsumsi buah dan sayur memiliki konsekuensi negatif terhadap kesehatan. Konsumsi Buah dan sayur dapat mencegah penyakit kardiovaskular dan beberapa jenis kanker terutama dari system pencernaan.

Keadaan gizi remaja

Maraknya makanan siap saji saat ini memiliki kadar lemak tinggi dan kadar serat rendah, hal ini dikhawatirkan menjadi pemicu obesitas. Anjuran agar membiasakan makan sayuran dan buah setiap hari pada remaja merupakan salah satu langkah untuk melindungi kaum muda dari kekurangan konsumsi serat, mencegah konsumsi lemak berlebihan untuk mengurangi risiko terjadinya obesitas dan penyakit degeneratif di usia dewasa.

Kebiasaan berperilaku bersih

Kebiasaan hidup bersih pada remaja dilihat dari kebiasaan menggpsok gigi, kebiasaan mencuci tangan dan kebiasaan dimana buang air besar (BAB). Kebiasaan menggosok gigi setiap hari sudah dilakukan hampir seluruh remaja di Indonesia baik perempuan maupun laki-laki. Sebagian besar dilakukan pada saat mandi (93%), tetapi hanya sebagian kecil (14%) yang melakukannya setelah makan pagi. Saat akan tidur malam remaja perempuan lebih banyak yang menggosok gigi dibanding remaja laki-laki (Riskesdas, 2010).

Kebiasaan mencuci tangan pada remaja belum membudaya, hanya 24% yang biasa mencuci tangan dengan sabun dan air. Air yang digunakan seharusnya bersih, tidak berwarna, tidak berbau dan yang mengalir. Remaja perempuan yang mencuci tangan setelah buang air besar(BAB), setelah memegang binatang, sebelum menyiapkan makanan dan sebelum makan lebih tinggi dibanding anak laki-laki. Kampanye cuci tangan merupakan salah satu upaya yang di;lakukan untuk meningkatkan kebiasan hidup bersih pada remaja.

Kebiasaan BAB di tempat yang beanar yaitu di leher angsa, dilakukan sekitar 70% remaja baik laki-laki maupun prerempuan. Masih diperlukan edukasi tentang BAB di tempat yang benar terutama di pedesaan untuk menjaga kebersihan individu dan lingkungan.

 

KEBIASAAN BERAKTIVITAS SEHAT REMAJA

Remaja, yang berumur 16– 24 tahun idealnya kelompok dengan tingkat kesehatan dan kebugaran yang baik. Aktivitas fisik kurang disertai konsumsi makanan yang berlebihan akan menimbulkan kelebihan berat badan menimbulkan risiko terjadinya penyakit.Sebaliknya aktivitas fisik yang berlebihan tanpa disertai dengan konsumsi yang memadai akan mengakibatkan gizi kurang dan kurus

Data Riskesdas 2010 telah diwawancara 33170 remaja yang berumur 16- 24 tahun 50,3 persen laki-laki dan 49,7 persen perempuan. Hasil menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi semakin kecil aktivitas fisik berat yang dilakukan, umumnya melakukan aktivitas sedang, akibatnyabanyak yang kelebihan berat badan, sebaliknya semakin rendah status ekonominya semakinbanyak yang kurus. Aktivitas berat paling banyak dilakukan oleh remaja dengan tingkat pendidikan SLTP. Aktivitas ringan paling sedikit dilakukan oleh remaja dengan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi. Untuk mendapatkan tubuh yang langsing Anda harus meningkatkan aktivitas harian diimbangi dengan konsumsi makanan yang beragam dan sesuai kebutuhan.


MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Usia remaja merupakan masa peralihan antara kanak-kanak dan dewasa baik dari segi kejiwaan, biologis, maupun seksual yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, emosi, dan psikis. Perubahan fisik reproduksi pada remaja putri ditandai dengan mulainya menstruasi (menarche) dan remaja putra dengan perubahan suara menjadi lebih besar, tumbuh kumis, tumbuh bulu di sekitar ketiak dan alat kelamin, mengalami mimpi basah, tumbuh jakun, penis dan buah zakar membesar, dan lain-lain. Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan fisik reproduksi pada remaja antara lain faktor lingkungan, sosial ekonomi, nutrisi, genetik, budaya, dan psikologis remaja.

Masalah kesehatan reproduksi yang terjadi pada remaja antara lain pernikahan usia muda, hubungan seks pranikah, penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS.

Di masyarakat umur perkawinan di bawah 20 tahun masih tinggi. Persoalan seks pranikah juga merebak sehingga menimbulkan perilaku seksual berisiko yang justru meningkatkan risiko tertular HIV/AIDS dan penyakit menular seksual (PMS).

Persoalan kesehatan reproduksi yang dialami pada remaja, umumnya disebabkan kurangnya informasi, pemahaman, dan kesadaran terhadap masalah tersebut. Oleh karena itu, perlu diberikan informasi lengkap dan benar mengenai kesehatan reproduksi. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan remaja agar dapat bertindak secara bertanggung jawab, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat.

 

 Penulis: Sri Muljati, Erna Luciasari, Dewi Permaesih, Yurista Permanasari