Style Switcher
Theme Skins

Layout Styles

Mengenal Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) Tahun 2016

Basuki Rachmat Selasa, 02 Agustus 2016 - 12:56:05 WIB. | 2219

JAKARTA-pusat3.litbang.depkes.go.id. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) di tahun 2016 pertama kali melakukan Riset Penyakit Tidak Menular (PTM) sekala Nasional. Riset ini fokus hanya  pada Penyakit  Tumor Payudara dan Lesi Prakanker Serviks. Secara Umum Riset PTM bertujuan untuk mendapatkan angka prevalensi penyakit tumor payudara dan lesi prakanker serviks pada wanita usia 25 - 64 tahun  di daerah perkotaan di Indonesia. Riset PTM juga mengukur besaran masalah serta penyebap terjadinya penyakit tumor payudara dan lesi prakanker serviks pada wanita usia 25 - 64 tahun di tingkat Nasional.

 

Riset PTM dilaksanakan pada 34 provinsi, 76 kabupaten/kota dan 76 kecamatan, dengan jumlah blok sensus sebanyak 1400 BS.  Jumlah responden yang menjadi subyek penelitian adalah 70.000 responden, sehingga di butuhkan keterlibatan tim enumerator sebanyak 628. Dengan pembagian beban kerja 1 Tim harus mampu menyelesaikan 2 BS atau sebanyak 100 subjek dalam jangka waktu puldata 20-21 hari. Pelaksanaan Riset PTM dibagi menjadi lima wilayah kerja, dimana masing-masing dibawahkorninasi oleh kordinator wilayah (korwil), korwil 1 meliputi wilayah Aceh, Riau, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, NTT dan Sulawesi Selatan. Korwil 2 meliputi wilayah kerja Sumatra Utara, Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Banten dan Maluku. Korwil 3 meliputi wilayah Sumatra Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua. Korwil 4 meliputi wilayah Jambi, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Barat. Korwil 5 meliputi wilayah Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua Barat.

 

Upaya Menjaga Kualitas Mutu Penelitian

Untuk menjaga mutu hasil penelitian dilakukan pemantauan oleh Tim Validator. Tim Validator terdiri dari IAKMI dan kolaborasi bersama Perguruan Tinggi. Tim Validator akan melakukan pemantauan sejak Rakornis Pusat, Workshop Training of Trainer (TOT), Training Center (TC)/ Wokshop Enumerator, dan Pengumpulan data. Riset PTM  sangat menjaga validitas di dalam pelaksanaan kegiatan. Sehingga ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu validitas internal dan eksternal. Validitas internal maksudnya adalah enumerator mengukur apa yang seharusnya terukur, sehingga di dalam pelatihan sangat penting untuk menjaga konsistensi enumerator yang dilatih agar paham dan terampil dalam pengunaan alat pengukur dan dalam melakukan wawancara dengan mengunakan Instrumen Kuesioner Riset Penyakit Tidak Menular. Tujuannya adalah agar kualitas data yang dihasilkan dari pengukuran dan wawancara, dapat dilakukan seragam secara nasional. Sedangkan validitas eksternal adalah seberapa jauh sampel yang kita ukur dapat menggambarkan populasi.

 

Instrumen dan Cara Pengukuran

Riset PTM dilakukan dengan Wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, serta terdapat Pemeriksaan antropometri Tinggi Badan (TB), Berat Badan (BB), Lingkar Perut (LP) dan Tekanan  darah. Selain itu terdapat pemeriksaan pemeriksaan tumor payudara dengan metode SADANIS (CBE = Clinical Breast Examination) dan Pemeriksaan kanker serviks dengan metode metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

Metode yang digunakan pada pemeriksaan tumor payudara adalah metode SADANIS (CBE =  Clinical Breast Examination) pada wanita usia 25-64 tahun. Periksa Payudara Klinis SADANIS merupakan pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang ada pada payudara dan untuk mengevaluasi kanker payudara pada tahap dini sebelum berkembang ke tahap yang lebih lanjut. CBE dapat menjadi metode deteksi dini kanker payudara yang efektif pada wanita yang tidak melakukan mammogram secara teratur. Selain itu dilakukan pula pemeriksaan SADARI dengan di pandu oleh petugas terlatih.

 

Pemeriksaan Lesi pra kanker serviks dilakukan pada wanita usia 25-64 tahun dengan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). IVA merupakan pemeriksaan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks diulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal atau abnormal. Dibutuhkan waktu satu sampai dua menit untuk dapat melihat perubahan-perubahan pada jaringan epitel. Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan skrining alternatife dari pap smear karena biasanya murah, praktis, sangat mudah untuk dilaksanakan dan peralatan sederhana serta dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan selain dokter ginekologi. Responden yang akan dilakukan pemeriksaan IVA harus memenuhi keriteria sebagai berikut: 1). Sudah pernah melakukan hubungan seksual; 2). Tidak sedang datang bulan/haid; 3). Tidak sedang hamil; 4). 24 jam sebelum pemeriksaan tidak melakukan hubungan seksual.

 

Tahapan Kegiatan Riset PTM

Tahapan kegiatan Riset PTM secara garis besar dibagi menjadi lima tahap yaitu; 1). Recruitmen Enumerator; 2). Workshop Training of Trainer (TOT) Penanggung Jawab Teknis (PJT); 3). Training Center (TC) enumerator; 4). Pengumpulan data; 5). Analisis Data dan Laporan.

 

Recruitmen Enumerator merupakan tahap awal mencari berbagai kandidat enumerator dengan latar belakang pendidikan minimal D3 kebidanan dan keperawatan. Recruitmen Enumerator dilakukan secara terbuka diantaranya melalui webside resmi Badan Litbang kesehatan, melalui Poltekes, Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang menjadi lokasi penelitian. Pada Riset PTM Enumerator memiliki tugas, melakukan Wawancara anggota RT, pengukuran , pemeriksaan, dan Data Entry kuesioner hasilnya diserahkan PJT Kab/kota.

 

Workshop Training of Trainer (TOT)Workshop khususnya ditujukan untuk PJT kabupaten/kota dan tenaga Pembantu Administrasi (PA). Workshop untuk PJT kabupaten/kota dilakukan oleh fasilitator yaitu PJT Provinsi dengan dukungan dari fasilitator utama Riset PTM 2016. PJT Kab/Kota diharapkan dapat menjadi fasilitator dalam workshop enumerator yang akan dilaksanakan setelah kegiatan ini. Kegiatan TOT dilakukan untuk persiapan kegiatan TC, dimana akan ada banyak enumerator Riset PTM 2016 yang akan dilatih, sehingga perlu adanya penyebarluasan pemahaman pelaksanaan Riset PTM kepada PJT kabupaten/kota yang selanjutnya akan terlibat di dalam pelaksanaan workshop enumerator. Pembekalan materi program entri data Riset PTM yang di keluarkan oleh Manajemen Data Badan Litbangkes. Pembelajaran mengenai cara operasional dan pengukuran. Serta pengetahuan tentang pertanggung jawaban Administrasi kegiatan penelitian di Lapangan.

 

Training Center (TC) Enumerator atau Workshop enumerator dilakukan dengan tujuan penyamaan pemahaman/persepsi substansi Riset PTM kepada enumerator di seluruh korwil. Dengan pemahaman yang baik, enumerator akan dapat mengumpulkan data dengan benar sehingga akan menghasilkan kualitas data yang baik. Kegiatan Workshop enumerator meliputi pemahaman mengenai indikator-indikator penelitian, cara untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan, mekanisme pengambilan specimen biomedis, mekanisme dan alur kerja, pemahaman instrumen yang digunakan, serta pertanggungjawaban keuangan. Pelaksanaan Workshop enumerator dilakaukan dengan cara paparan/presentasi serta tanya jawab, diskusi, dan praktek lapangan.

 

Pengumpulan Data dilakukan di BS terpilih yang tersebar di 34 provinsi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara enumerator mendatangi langsung ke rumah tangga responden terpilih sesuai dengan nomor bangunan sensus (BS) hasil sampling BPS (Badan Pusat Statistik). Enumerator melakukan wawancara terhadap responden mengunakan instrumen kuesioner terstruktur, melakukan pengamatan (observasi), melakukan pengukuran dengan mengunakan alat ukur terkalibrasi,  pengambilan specimen biomedis terhadap responden terpilih, dan mengantar enumerator melakukan pemeriksaan IVA di Puskesmas/Pustu Terpilih dengan di koordinasi oleh Penanggung Jawab Teknis (PJT) di masing-masing Kab/Kota terpilih. Apabila responden positif Lesi pra kanker serviks, maka PJT memberikan saran untuk  merujuk responden tersebut ke RS guna penanganan pengobatan lebih lajut dengan bantuan surat pengantar dari Puskesmas. Selain itu enumerator dan PJT juga bertanggung jawab dalam penanganan dan pengiriman sampel Biomedis. Kuesioner hasil pengumpulan data yang telah terisi, di periksa oleh ketua tim dan di serahkan ke PJT kab/kota. Setelah PJT kan/kota melakukan pemeriksaan kuesioner dan sudah sesuai, PJT meminta enumerator untuk melakukan entry data. Entry data mengunakan sofware Data Entry PTM 2016 yang di buat dengan mengunakan sofware CSPro 6.1 yang di keluarkan oleh Laboratorium Manajemen Data Badan Litbang Kesehatan.

 

Analisis Data dan Laporanmerupakan tahap akdir dari kegiatan penelitian. Data yang telah di entry dikirim oleh PJT Kab/Kota ke penanggung jawab mandat masing-masing provinsi. Data yang telah dikirim di cek oleh masing penanggung jawab mandat provinsi, jika terdapat data yang tidak sesuai maka akan di tanyakan ke PJT Kab/Kota, untuk dilakukan perbaikan. Data yang sudah di perbaiki di kirim ke Kepala Laboratorium Mandat untuk di Cleaning dan di Analisis lebih lanjut. Setelah data dianalisis sesuai dengan parameter yang di inginkan, data di serahkan ke Penanggung Jawab Blok (PJ Blok). PJ Blok akan menyusun dan membuat laporan Akhir kegiatan Riset PTM.

 

Hasil dari Laporan Riset PTM akan di dapatkan  angka prevalensi wanita   (usia 25 - 64 tahun) dengan tumor payudara dan lesi prakanker serviks di daerah perkotaan Indonesia. Sehingga laporan ini dapat jadikan sebagai rujukan untuk membantu program pencegahan, pengendalian dan pengobatan penyakit tumor payudara dan lesi prakanker serviks di Indonesia.